klik in here..

Jumat, 28 Oktober 2011

Buku Raditya Dika Yang Ketiga : BABI NGESOT (RESENSI)


Judul Buku : Babi Ngesot
Penulis : Raditya Dika
Penerbit : Bukune
Tebal : 237 hal
Tahun terbit: 2008

Ini adalah buku ketiga Raditya Dika yang gue baca setelah Cinta Brontosaurus dan Radikus Makankakus. Sebenarnya yang paling baru sih Marmut Merah Jambu, tapi kata orang, Marmut Merah Jambu nggak se-"gila" buku-buku Raditya Dika sebelumnya, jadi gue memutuskan untuk beli Babi Ngesot aja ketimbang Marmut Merah Jambu.

Buat yang belum tahu Raditya Dika, bisa nonton Provokatif Proaktif di Metro TV buat lihat orangnya secara live, buat yang belum tahu buku-buku karyanya, Raditya Dika ini adalah orang pertama yang blognya dibukukan jadi novel, yaitu Kambing Jantan. Ada filmnya juga lho, tapi saya belum nonton. Setelah Kambing Jantan, Raditya Dika juga sudah mengeluarkan beberapa buku sampai saat ini, antara lain Cinta Brontosaurus, Radikus Makankakus, Babi Ngesot, dan Marmut Merah Jambu. Semua ada di toko buku.

Back to resensiii....

Seperti buku-buku Raditya Dika sebelumnya, Babi Ngesot bukan cerita fiksi. Seluruh kisah yang ada di buku ini diambil dari kejadian nyata yang terjadi dalam hidup superaneh seorang Raditya Dika ditambah bumbu-bumbu komedi juga lah, cuma untuk buku ini cerita lebih difokuskan ke tema mistis. Ada 17 bab dengan judul aneh dalam buku ini, misalnya: Pentingnya Membawa Babi Bersayap Sewaktu Kencan Buta, Ketekku Bertahanlah!, Merinding Disko, dan tentu saja Babi Ngesot (perpaduan Babi Ngepet dengan Suster Ngesot). Isinya nggak selalu nyambung dengan judulnya, tetapi selalu bikin ketawa ketika dibaca. Ada pengalaman soal hantu anak kecil berponi yang tinggal di kamar Radit dan minta dikenalin ke temennya Radit, ada lagi kisah pembantu Radit yang kesurupan. Selain itu, ada juga kisah sehari-hari Radit yang tidak berhubungan dengan mistis-mistisan, misalnya kisah ketika dia ikutan lomba band Indonesia di Australia yang super heboh (ada Gideon, si sangar yang ternyata cuma bisa maenin lagu My Heart Will Go On-nya Titanic dengan gitar) dan cerita soal kemungkinan tumor di ketek Radit yang bikin Radit heboh setengah mati.

Membaca buku ini seru banget, apalagi dikala senggang. Sebagian waktu gue membaca buku ini adalah ketika gue di bis dalam perjalanan ke kantor pagi hari atau pulang kantor malam hari. Bahaya juga sih, soalnya gue jadi suka ngikik-ngikik sendiri, sehingga berpotensi dikira orang gila sama penumpang yang lain. Cerita kehidupan Dika dan keluarganya memang selalu unik dan ajaib, terutama adik bungsu Radit, Edgar. Sayang untuk buku Babi Ngesot ini, Raditya Dika lebih kasar dan vulgar dalam memilih kata-kata untuk bercerita. Untuk saya, isi buku ini masih tetap menghibur seperti buku-buku yang lainnya, tapi Radikus Makankakus dan Cinta Brontosaurus still better.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar