klik in here..

Minggu, 30 Oktober 2011

Resensi Buku: Tuhan inilah proposal hidupku karya Jamil Azzaini


Siapa itu Jamil Azzaini alias Kang Jamil?
Meskipun sama-sama kaya dan berasal dari Lampung, tapi Kang Jamil bukanlah seorang Bakrie. Beliau tidak punya (baca: belum) usaha pertambangan, perusahaan asuransi, perseroan telekomunikasi, konglomerasi media, atau sesuatu yang sejenisnya. Alih-alih berkecimpung di dunia itu, Kang Jamil justru mengambil jalan lain. Beliau adalah motor di balik lahirnya PT Kubik Kreasi Sisilain, pendiri sekaligus donatur untuk sekolah murah di Provinsi Lampung dan seorang trainer kaliber internasional yang sudah pernah diundang untuk berbicara di luar negeri.

Singkat cerita, this guy is great, he wrote one of the simplest (99 pages long) yet nicest book I've ever read and I want to review it. So here we go ..... Bismillah.


TPIH is a book, but not an ordinary one!

Buku "TUHAN, inilah Proposal Hidupku ....." (TIPH) bukanlah buku biasa. Berdasarkan definisi penerbitnya, Gramedia Pustaka, buku karangan Kang Jamil ini termasuk dalam katalog Work Book. Ini artinya Anda selaku pemilik atau pemegang buku ini memiliki "tugas tambahan" di samping membacanya. Tugas apa itu? Gampang kok, Anda hanya perlu mengerjakan beberapa hal tidak sulit yang diminta oleh Kang Jamil melalui bukunya. Tugas tambahan itu diantaranya adalah Anda dituntut untuk langsung menuliskan "proposal hidup" Anda di atas dua setengah halaman yang ada di dalam buku (ada di halaman 18-19-20). Selain itu, Anda juga diminta untuk mengisi sebuah tabel yang terdiri dari tiga bagian yakni; (1) Kegiatan yang Anda Kuasai, (2) Kegiatan yang Anda Cintai, dan (3) Kegiatan yang Menghasilkan (halaman 38). Dan yang paling seru adalah di halaman 65 - 68 ketika sang penulis mengajak kita untuk membuat target 90 hari selama 4 triwulan.

Tujuan dan Landasan Ilmiah Proposal Hidup

Tujuan dari kegiatan tambahan ini adalah tidak lain agar setelah membaca buku ini Anda akan langsung memiliki semacam action plan yang dapat membantu Anda untuk mewujudkan apa yang sudah Anda baca tadi. Action plan inilah nantinya yang akan menjadi semacam panduan bagi Anda dalam penyusunan proposal hidup Anda sendiri. Mungkin Anda akan bertanya-tanya, "apakah benar kalau seandainya kita punya proposal hidup, maka hidup kita akan lebih sukses daripada bila tidak memilikinya?

Nah, bila memang pertanyaan itu mengusik Anda, berarti Anda tidak perlu khawatir lagi karena di dalam buku ini Kang Jamil juga mebeberkan landasan ilmiah dari penyusunan proposal hidup itu sendiri. So, this book is not about a superstitioun process (baca: proses tahayul).

Konon, berdasarkan riset selama 10 tahun (1979 - 1989) yang dilakukan oleh Mark McCormack terhadap para lulusan MBA di Harvard Business School, ditemukan fakta menarik bahwa 13% mahasiswa yang menyatakan memiliki rencana hidup yang jelas, spesifik, tapi TIDAK TERTULIS memiliki penghasilan rata-rata dua kali lipat dibandingkan dengan mereka yang 84% (belum memiliki dan menyusun rencana hidup). Tapi ada yang lebih luar biasa ketimbang itu, bahwa 3% lulusan yang telah memiliki rencana hidup yang jelas, spesifik, dan TERTULISternyata memiliki penghasilan yang besarnya rata-rata 10 kali lipat dibandingkan 97% lulusan sekolah bisnis terbaik di seluruh dunia itu. Wow, siapa yang tidak mau kalau begini. Dengan hanya menuliskan sesuatu yang kita inginkan ternyata kita bisa meraih hasil yang jauh lebih besar ketimbang tanpa menuliskannya (halaman 9).

Oke, sudah cukup pengantarnya, sekarang marilah kita menguliti isi buku hasil karangan dosen pasca sarjana IPB ini. Menurut Kang Jamil, untuk menghasilkan sebuah proposal hidup yang bagus, kita membutuhkan lima langkah untuk mencapainya:

1) You're a masterpiece! 

Anda adalah sebuah mahakarya (baca: Masterpiece). Dan Kang Jamil meminta Anda untuk menyadarinya. Di dalam buku TPIH, Kang Jamil menganalogikan betapa berharganya seorang manusia dengan harga beberapa barang mewah seperti Jam Hublot yang dihargai Rp 11 Miliar atau Ferrari 250 GT SWB yang dihargai Rp 102,9 Miliar. Menurut Kang Jamil, manusia adalah sesuatu yang amat sangat berharga dan tidak mungkin bisa dinilai dengan uang atau sejenisnya. Bayangkan, maukah kita menjual kedua mata atau kedua tangan ini dengan harga 11 Miliar atau 102,9 Miliar seperti harga kedua barang mewah di atas?

Bila Anda adalah tipe manusia yang berkata "ya" atau "mau" untuk pertanyaan di atas, maka saya sarankan Anda untuk segera menutup buku dan pergi jauh dari tulisan ini. Karena tampaknya pesan Kang Jamil bukanlah ditujukan untuk orang-orang seperti Anda. Tapi bila Anda berani menjawab "tidak", maka buku ini adalah untuk Anda dan di bagian berikutnya Kang Jamil akan membeberkan rahasia agar Anda bernilai lebih dari Rp 100 Miliar atau bahkan tidak ternilai sama sekali. Bagaimana caranya? Antum harus sabar, karena jawabannya ada di poin nomor 3! Tapi sebelum sampai kesitu, baca dulu poin kedua.

2) Tetapkan Prestasi Terbaik yang akan Anda Raih

Poin kedua dari tulisan Kang Jamil bergerak dari sebuah renungan yang dalam. Coba simak beberapa untaian kalimat berikut:

Bila saatnya tiba nanti, Tuhan memanggil Anda dan kemudian berkata, "Saya menciptakan kamu dengan sangat spesial dan berharga mahal, coba ceritakan prestasi-prestasi apa yang pernah kamu capai ketika kamu hidup di muka bumi yang sebanding dengan harga kamu?" apa yang Anda hendak ceritakan kepada Tuhan?

Jeng ... jeng .. jeng ... kalau disadari, renungan di atas benar-benar bisa menusuk kalbu. Kang Jamil benar. Sebagai sang pencipta, Allah memang berhak bila nanti menanyakan hal-hal seperti di atas. Kita sudah diciptakan dengan sangat sempurna, lalu apa kontribusi kita?

Nah di sinilah nasehat Kang Jamil mulai masuk. Menurut Sang Penulis, yang pernah mengayuh sepeda sepanjang 23 KM hanya untuk pergi ke sekolah, bila kita ingin menentukan prestasi terbaik yang akan kita raih sepanjang hidup kita, maka kita perlu membuat semacam daftar prestasi. Apapun prestasi itu boleh kita tuliskan selama masih masuk dalam kaedah spesifik, terukur, dan jelas waktu pencapaiannya. Di samping ketiga kaedah itu, prestasi-prestasi tersebut hendaknya mampu meningkatkan 4-ta, yakni harta, tahta, kata dan cinta. Ups, untung tidak ada "wanita" di dalamnya ya? Hihihihihi ....

Berikut saya kutip contoh penulisan prestasi yang benar:

Spesifik:

Saya adalah Pengusaha Restoran terbaik di Jawa Barat.

Terukur:

Setiap tahun restoran saya akan menambah satu outlet.

Jangka waktu jelas:

Saya akan mencapai ini pada tahun 2020

Meningkatkan 4-ta:

Menjadi CEO terbaik di Indonesia sekaligus mampu memberi inspirasi kepada 5 juta orang

Memberi manfaat untuk orang lain:

Mempekerjakan 20 ribu orang, mempekerjakan orang-orang cacat, dan mengentaskan kemiskinan.

Nah, kalau kelima kalimat di atas digabung, kita akan mendapati kalimat motivasi yang bagus sekali;
Saya adalah Pengusaha Restoran terbaik di Jawa Barat. Setiap tahun restoran saya akan menambah satu outlet. Saya akan mencapai ini pada tahun 2020. Saya akan menjadi CEO terbaik di Indonesia sekaligus mampu memberi inspirasi kepada 5 juta orangmempekerjakan 20 ribu orang, berdayakan orang-orang cacat, dan mengentaskan kemiskinan.

Subhanallah, bagaimana ya akhi? Mantap bukan gagasan dan nasehat dari Kang Jamil. Saya rasa buku TPIH ini sangat cocok dibaca oleh calon-calon pengusaha muslim - atau bahkan yang sudah menjadi pengusaha sekalipun - untuk meraih masa depan yang sukses dan diberkahi oleh Allah SWT. Sebenarnya masih ada tiga langkah lagi yang harus Antum ketahui agar bisa menulis proposal hidup yang pas, tapi itu nanti akan saya paparkan di edisi berikutnya dari tulisan ini. Untuk sementara, silahkan merenungi diri sendiri dulu ...... (sesuai dengan nasehat di poin pertama).
***
Catatan Redaksi:

Dari sisi judul buku: "Tuhan Inilah Proposal Hidupku"

Bagian dari adab terhadap Allah, kita tidak diperkenankan menggunakan istilah yang tidak selayaknya digandengkan dengan Nama-Nya yang Mulia. Seperti istilah yang umumnya digunakan dalam bidang bisnis. Karena penggunaan istilah semacam ini terkesan kurang menjaga 'sopan santun'. Kata 'proposal' termasuk dalam catatan tersebut. Karena itu, akan lebih sopan jika digunakan kata rencana, harapan atau doa. Allahu a'lam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar